Minggu, 07 Juni 2015

Accident in the Afternoon

Rabu 27 Mei 2015

Hari ini hari yang sangat sibuk. Ngerjain penelitian di laboratorium, bikin laporan penelitian, sehingga ndak bisa jemput Ken dan Nina pulang sekolah. Tugas jemput sekolah minta tolong Eyang Ti dan Eyang Kungnya.
Pagi sebelum berangkat kerja, Ken sempat merajuk

Bunda, Mas Ken maunya dijemput bunda saja. Ndak mau di jemput eyang.
Kenapa mas?
Iya bund, kalo di jemput bunda kan bisa main sepeda di rumah. Kalo dijemput eyang ndak bisa sepedaan
Ya, nanti sore saja sepedaannya kalo bunda sudah pulang kantor.

Kenzie lagi seneng-senengnya naik sepeda roda 2,s epedanya baru dibelikan Ayahnya. Tapi sudah dipesenin kalo sepedaan jangan di dalam rumah. Kebetulan rumah kami agak luas bagian ruang keluarganya. Sengaja kami minggirkan semua kursi dan meja, agar Ken, Nina, dan Atta bisa sepedaan di dalam rumah. Tapi pakai sepedanya yang kecil, bukan yang besar.

Pagi sebelum berangkat kerja pun, saya  ngobrol ma Ayah.

Ayah, besok jadi berduaan kan?
Mau kemana ya...
Ga tahu Yah, aku juga bingung mau kemana.
Apa ndak usah aja, Bund. Tar sabtu keluar bareng ma anak-anak aja.
Ok

Kita ada rencana mau keluar bareng di hari kamis, karena sudah lama ndak “pacaran”, kita berdua sama-sama sibuk. Saya sibuk ma lab dan penelitian, Ayah sibuk ma proyek di kantor.
Berangkatlah kita...
Saya dan Atta..
Ayah antar Ken dan Nina
------------------------------------------------------------
Sore pulang kerja....
Ken menghampiri saya dan berkata

Bund, tadi mas ken sepedaan, jatuh terus  “nonot” mas Ken ditatap sepeda, berdarah.  Tapi sekarang darahnya sudah berhenti, Bund.
Sakit, mas.
Ndak bund. Mas ken tak sepedaan lagi ya, bund.
Iya mas

Saya pun masuk rumah dan mandi. Setelah mandi, Ken menghampiri saya lagi

Bund, “nonot” mas Ken sakit kalo di buat jalan.

Saya langsung telepon Ayah, cerita singkat. Ayah bilang, dibawa ke UGD lavalette aja

Saya bawa Ken ke UGD Lavalette. Sesampai di sana langsung di lihat sama dokter jaga dan perawatnya. Setelah memeriksa Ken, Dokter bilang...

Ibu, ini lebih baik sekalian di sunat saja. Karena yang luka pas bagian kulitnya. Kalo di rawat nanti malah “mborok” yang akan menutup saluran pipisnya.

Sesaat saja tertegun. Speechess.......

Sesampai di rumah, sudah ada Yang Ti yang baru pulang ngaji dan ndak lama Ayah pulang kantor. Saya cerita kalo Ken harus di sunat.

Malam itu juga kami putuskan untuk membawa Ken ke dr. Bambang Prijadi, MS.  Beliau pun menyarankan untuk sunat, tapi bisa di tunda sampai kamis pagi. Biar Ken istirahat dahulu

Kamis, 28 Mei 2015

Pagi-pagi jam 5, kami sudah membangunkan Ken. Eyang Ti dan Eyang Kung sudah datang untuk membantu menjaga Atta dan Nina, karena masih tidur.

Jam 05.30, kami sampai di rumah dr. Bambang Prijadi, MS. Beliau sudah siap dengan segala peralatannya.
Proses sunatpun di mulai, pas di suntik bius Ken nangisnya luar biasa....

Tapi setelah obat biusnya bekerja, Ken malah cerita-cerita dengan Ayah (Ayah megangin Ken di bagian atas kepala). Apa aja diomongkan....

Jam 06.30 proses sunat pun selesai, dan kami pun pulang.

Sesampai di rumah.... Ken menjadi raja. Hanya duduk depan televisi sambil menonton acara kesukaannya.
Ndak lama kemudian reaksi obat biusnya habis, wah... mulai teriak-teriak. Yang sakit, yang panas, yang jangan di pegang....
Maunya di tiup dan di kipasin sama bunda saja...
Bunda iseng tanya...

Biar ndak sakit mas ken mau apa?
Mau magnum, bunda.
Tapi janji ya, kalo sudah dikasih magnum ndak nangis lagi
Iya bunda, janji...

Hehehehe... mumpung lagi sakit, Ken aji mumpung.... mau es krim yang paling enak hehehehe
Tapi ndak papalah... yang penting Ken cepet sembuh.

Selamat ya Nak, semoga menjadi anak yang semakin sholeh dan semakin sayang sama Ayah Bunda, Mas Atta, dan Adik Nina.

Jumat, 29 Mei 2015

Sebagai wujud rasa syukur kami, kami mengadakan acara syukuran sunat Ken sekaligus akikahnya. Karena kami berdua masih punya utang untuk mengadakan akikah anak-anak. Alhamdulillah yang berkenan hadir di acara syukuran Ken banyak, sekaligus mendoakan supaya Ken menjadi anak yang sholeh.

Maturnuwun semuanya...

^_^







Kamis, 14 Mei 2015

Bottle Caps vs Blue Eyes

Tau tutup botol kan? Kalau bahasa jawanya saya menyebut "Kempyeng"....

Tutup Botol

Entah sejak kapan Blue Eyes suka sama tutup botol. Dia suka melihat gambarnya. Awalnya setiap kali diajak ke rumah makan, warung, atau ke restoran.... yang di tuju pertama kali adalah kulkas penyimpanan minuman dingin. Dia ndak peduli di pesankan makan atau tidak, yang penting bisa dapat tutup botol...

Ada keasyikan sendiri yang saya lihat jika Blue Eyes mendapatkan tutup botol... mulai dari di tumpuk, di lihat gambarnya dan di tata rapi....

Dan, gara-gara tutup botol inilah beberapa kejadian di luar dugaan terjadi.... Bikin malu sih ndak -Bundanya sudah kebal, saraf malunya sudah berkurang, red-... tapi dampaknya itu lho....

Kejadian pertama... 

Pas kita semua keluarga besar makan bersama di Rumah Makan di kawasan Stasiun Kota Malang.... Pandangan Blue Eyes pertama kali melihat kulkas penyimpanan minuman dingin (yang nyimpen botol teh dingin).... sudah ndak sabar untuk ambil tutup botolnya. Padahal kulkasnya ada di belakang meja kasir dan kita ndak bisa mengambil seenaknya....

Saya tulis dikertasnya "Atta tunggu. Ayah nanti ambil tutup botol"

Setelah di tuliskan, dia lumayan tenang... karena tahu bahwa Ayahnya akan mengambilkan tutup botolnya. Tak lama Ayah datang dengan membawa tutup botol teh.... Tutup botol yang sedikit bengkok (karena pelayannya membukanya dengan pembuka botol tangan)....

Melihat tutup botol yang bengkok itu, dia kecewa.... dan apa yang dilakukan....Dia membuang tutup botolnya ke arah belakang, padahal di belakangnya pengunjung lain yang juga menikmati makanan di restoran ini.... Untungnya saya ndak di komplain, dan pengunjung tersebut ndak membalas melemparkan tutup botolnya...^_^

Setelah itu, Blue Eyes menangis....minta lagi.... dikasih lagi sama Ayah... eh dilempar lagi..... Ihhh, jadi gemes, ini anak maunya apa? Minta, dikasih, eh dibuang....
Kejadian ini terulang sampai ke tiga kalinya....

Setelah tiga kali melakukan hal itu, Blue Eyes menoleh ke belakang, ke arah di lemparnya tutup botolnya.... minta diambilkan. Dengan muka badak, saya dan Blue Eyes mengambil tutup botol yang sudah dia lemparkan ke pengunjung dibelakang kami. Dengan perasaan tidak enak, saya meminta maaf atas kelakukan Blue Eyes... untuknya pengunjung ini baik banget (apa nahan marah ya???)...

Setelah itu.... Blue Eyes yang awalnya rewel, jadi mau makannya... ndak bingung nyari tutup botol lagi...

Pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini:

"Ternyata Blue Eyes ndak mau 1 tutup botol, maunya banyak. Pahami gesture yang Blue Eyes lakukan... Saya harus mengerti Blue Eyes, bukan dia yang harus pahami saya"

Kejadian Kedua,

Pas di ajak maem di Bakso G*ng di daerah Jl. Wijayakusuma.... wah ini yang paling ndak tenang makan bakso hehehehehe.... gimana ndak tenang, kulkas botol tehnya pas sebelahan ma kursinya. Maunya Blue Eyes semua botol yang ada di kulkas di bukain semua biar dia dapat tutup botolnya..... 

Pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini:

"Mesti berpikir 2 kali kalo mau ajak Blue Eyes makan di luar.... mending beli, bungkus, makan di rumah"

Kejadian Ketiga, 

Pas antri bensin di Pom Bensin Jl. Bandung, Malang. Setiap isi bensin, saya selalu perhatian sama meteran bensinnya. Pas mobil udah saya jalankan, saya di datangin ma Mbak2 sambil bilang 

"Bu, anaknya lari ke sana...(ke arah pojokan, memang ada kulkas botol teh)"

Ndak jadi jalan deh mobilnya... saya langsung keluar dari mobil, ndak peduli sama mobil yang sudah antri dibelakang saya. Mau marah biarlah marah... yang penting Blue Eyes ndak ilang....
Saya hampiri Blue Eyes, saya gandeng tangannya dan segera saya masukkan ke mobil, sambil ndak lupa menoleh ke mobil di belakang saya dan bilang maaf karena sudah membuat menjadi menunggu lama.

Pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini:

"Jangan lupa untuk mengunci pintu "Safety child" sehingga Blue Eyes ndak bisa membuka pintu dari dalam... dan yang penting lagi... ngecek dulu, anaknya ada ndak di mobil..."

Rasanya, Blue Eyes ini selalu di lindungi oleh Allah SWT dan malaikat.... entah apa jadinya jika si Mbak2 itu ndak kasih tau saya, dan saya melajukan mobilnya.... Apakah saya masih bisa bertemu Blue Eyes lagi atau ndak....T_T

Kejadian Keempat,

Kita bertiga -Blue Eyes, Ayah, dan Saya- makan bakso di Kawasan Sukarno Hatta.... Pas, mau pesan makannya saya bilang ma penjualnya...

"Mas, saya pesan teh botol 3 ya, nanti tutup botolnya sama minta ya..."

Eh kok penjualnya bilang begini...
"Saya ada bu 1 plastik, ibu mau? " sambil ngeluarin 1 plastik besar yang isinya tutup botol !!!!

"Hah, mau banget mas, ndak kepake kan?"

"Ndak bu"

Pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini:

"Selalu tanyain dulu di awal, apakah yang jual nyimpen tutup botol ndak kepake....siapa tahu bisa di minta dan dibawa pulang"


Tutup botol yang dikasih sama penjual bakso, sesampai di rumah di tuang di tempat tersendiri ma Blue Eyes.

Kejadian Kelima, 

Kita jadi sudah biasa kalo Blue Eyes selalu nguber tutup botolnya.... jadi kalo misalnya kita ajak makan di warung bakso atau rumah makan, dan dimana kulkas teh botolnya bisa di akses sama pembeli... Kita akan langsung menuangkan tutup botol yang ada di penyimpanan tutup botol (yang nempel di kulkas) plus ijin sama penjualnya.... setelah itu Blue Eyes akan tenang ndak rewel selama makan.

Pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini"

"Bahagia itu sederhana.... bisa melihat anak duduk tenang hanya gara2 sudah dapat tutup botol merupakan kebahagiaan yang uar biasa"


Hasil berburu tutup botol

Padahal.....
Setelah sesampainya di rumah, para tutup botol ini lho ndak di apa2kan... dikumpulin aja dan dipandangin ma Blue Eyes...

Setelah kejadian berulang kali dengan tutup botol, akhirnya saya setiap kali ngajakin Blue Eyes makan di luar selalu sangu tutup botol yang saya masukkan di tas. tar kalo udah di nyampe di tempatnya... tutup botol ini saya berikan dan dibuat mainan ma Blue Eyes....

Hikmahnya...
Mungkin ini adalah proses pembelajaran bagi Blue Eyes, kalo bagi kita apa sih istimewanya tutup botol... tapi bagi Blue Eyes ini adalah bentuk pembelajaran tentang konsep bentuk, nama benda dan fungsi benda. Di sisi lain, setiap proses pembelajaran yang dia lakukan selalu menuntut kesabaran saya dan Ayahnya.... Sama-sama belajar... Blue Eyes belajar tentang benda, sedangkan kami belajar menjadi lebih sabar lagi.

^_^ Semangat....


Senin, 26 Januari 2015

Belajar Sholat....

Alhamdulillah "My Spanish Blue Eyes" sekarang sudah mulai belajar sholat. Setiap kali waktu sholat tiba, Atta selalu mengikuti saya atau ayahnya untuk mengambil air wudhu di kamar mandi. Walaupun urutan wudhunya masih belum benar, Atta tidak menolak jika saya atau ayahnya membetulkan urutan yang benar kepada Atta.

Setelah selesai wudhu, Atta akan segera berlari ke kamar untuk membantu menggelar sajadah merahnya. Saat sholatpun Atta berdiri disebelah saya atau ayahnya dan mengikuti setiap gerakan sholat. Di akhir sholat, setelah salam Atta akan langsung menyalami tangan kami dan menyediakan pipinya untuk kami cium... Setelah itu Atta akan melanjutkan mainnya atau melanjutkan aktivitas sebelumnya, misalnya makan atau menulis di kertas putihnya.

Alhamdulillah, meskipun lambat tapi kami yakin bahwa nantinya Atta akan lebih tertib sholatnya... Akan menjadi kewajiban kami untuk mengajarkan sholat kepada Atta. Sehingga akan menjadi bekal buat Atta jika kami sudah tidak ada, Atta sudah dapat melakukan sholat secara mandiri dan tertib tanpa tergantung lagi pada kami.

Love U boy... Tetap semangat ya... Doa Ayah Bunda selalu menyertai di setiap langkahmu.. Aamiin..

Jumat, 23 Januari 2015

Waardenberg Syndrome

Awalnya, kami tidak tahun jika terkena Waardenburg Syndrome. Seluruh dokter yang kami datangi mendiagnosis rubella. Selama 6 tahun kami mengikuti diagnosis tersebut. Sampai pada akhirnya pada saat Atta fitting alat di Kasoem Hearing, Mbak Greta (teknisi di Kasoem) ngobrol dengan saya, dan beliau menyampaikan kalo Atta ini kok kayanya Waardenberg Syndrome ya bu... Saya bengong, apa itu???

Sampai dirumah sayapun buka lappy dan browsing "Waardenberg Syndrome". Dan inilah penjelasan singkatnya...


Waardenburg syndrome adalah suatu syndrome kelainan genetic yang mengakibatkan kehilangan pendengaran dan perubahan warna pigmen pada rambut, kulit, dan mata; meskipun pada kebanyakan penderita ada yang masih mempunyai pendengaran normal, sebagian gangguan pendengaran tingkat sedang, dan ada yang mengalami gangguan pendengaran tingkat berat (profound hearing).  Gangguan pendengaran ini terjadi sejak bayi (congenital). Orang dengan kondisi seperti ini mempunyai mata berwarna biru pucat atau mempunyai warna mata yang berbeda antara yang kiri dan kanan, misalnya yang kiri berwarna coklat dan yang kanan berwarna biru pucat. Tanda lain adalah terkadang terdapat warna rambut putih pada sebagian rambut. (http://ghr.nlm.nih.gov/condition/waardenburg-syndrome)

Ada 4 tipe Waardenberg syndrome ini. Tipe 1 dan tipe 4 mempunyai kemiripan yang sama, yang membedakan adalah pada tipe 1 ada jarak yang lebar diantara kedua mata sedangkan pada tipe 2 tidak. Pada tipe 2 kehilangan pendengaran mempunyai tingkat lebih berat dibanding tipe.
Pada tipe 3 (Klein-Waardenburg syndrome) adanya ketidaknormalan pada tubuh bagian atas, adanya gangguan pendengaran, dan adanya perubahan pigmentasi.
Pada tipe 4 (Waardenburg-Shah syndrome) adanya tambahan gejala “Hirschsprung disease”, yaitu adanya gangguan pencernaan yang menyebabkan konstipasi pada usus.(http://ghr.nlm.nih.gov/condition/waardenburg-syndrome)

Saya pun tertegun dengan penjelasan ini, selama 7 tahun kami mencari jawaban atas pertanyaan "sebenarnya Atta ini kenapa?"... Ternyata ini jawabannya...
Penjelasan yang sama juga diberikan oleh dr. Haris (saya lupa nama lengkapnya - yang jelas beliau dokter THT yang praktek di Kasoem Surabaya).

Mas Atta ini memang menderita Waardenberg Syndrome, kalau saya melihat Atta ini termasuk tipe 1. Kalau saya observasi, Atta ini tidak ada autis maupun hiperaktif. Adanya perilaku yang menyerupai anak hiperaktif karena bawaan dari syndromenya.

Saya bersyukur, bahwa dugaan atas autis dan hiperaktif pada Atta ini tidak ada. Walaupun kami harus tetap mengendalikan perilakunya sehingga lebih mudah diarahkan dan lebih berkonsentrasi.















Kamis, 22 Januari 2015

Semangat...

Setiap waktu yang kita dapatkan adalah berharga.. maka bersyukurlah setiap saat...

Kalimat ini yang selalu saya ingat apabila mengingat bahwa sampai saat ini masih diberikan kesempatan untuk masih dapat melihat indahnya dunia, masih bersama orang-orang tercinta, dan masih diberikan kesempatan untuk lebih banyak berdoa.

Ada rahasia disetiap anugerah yang kita dapatkan... Dulu, saya selalu bertanya "mengapa saya" dan "mengapa selalu saya" dan "mengapa cobaan ini tidak pernah berakhir"....

Ternyata banyak pelajaran yang saya ambil disetiap cobaan yang saya dapatkan. Saya menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih banyak berdoa...

Anyway.... bersyukurlah setiap saat....

Minggu, 09 November 2014

Friends....

Arti kehadiran teman bagi saya adalah sebagai pelengkap dalam perjalanan hidup ini. Setiap bertemu dengan teman baru memiliki kisah tersendiri dan meninggal jejak memory tersendiri. Teman yang sama miliki tidak hanya berada di lingkungan tempat kerja saya, teman yang saya miliki mulai dari teman sejak masa sekolah dasar, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman kerja, dan komunitas orang tua ABK.

Saat ini saya ingin berbagi kisah tentang seorang teman saya yang saya kenal sejak kelas 4 SD. Kebetulan saya kelas 4 SD pindah ke Mojokerto untuk mengikuti orang tua yang pindah tugas ke sana.

Tahun 1989, saya mengikuti orang tua untuk pindah kerja ke Mojokerto. Saya masuk ke SDN. Gedongan 3, dan disana saya banyak mendapat teman baru. Salah satunya bernama Jimmy Victoria. Di kelas 4 ini kami tidak begitu dekat hanya sebatas saling sapa. Saya baru mengenal dekat setelah kita duduk di kelas 6. Jimmy ini orangnya diem, ndak banyak omong. Saya juga heran kita sampai bisa berteman baik. 

Pertengahan kelas 6 saya harus pindah lagi ke Malang untuk mengikuti orang tua. Tapi pertemanan saya dan Jimmy masih berjalan baik, kita saling kirim surat untuk bertukar kabar dan untuk tahu kabar masing-masing. Hal ini berlangsung sampai kami sama-sama dewasa dan sudah ada teknologi handphone dan internet. Sesekali kami bertukar kabar walaupun intensitasnya sudah mulai jarang.

Jimmy sempat dua kali berkunjung ke rumah saya, kebetulan dia punya saudara di malang. Jadi sekalian mengunjungi saya.

Saat saya menikah pun, saya mengirimkan undangan ke Jimmy hanya saja karena pekerjaan di Jakarta dia tidak bisa datang ke pernikahan saya.

Saat Jimmy menikah pun, dia mengabari saya jika dia akan menikah. Dan mohon doa supaya permikahannya lancar.

Komunikasi kami tetap berjalan, hanya saja tidak sesering dulu. Pada saat teman-teman SD membuat grup obrolan di facebook, komunikasi terjalin.

Kemudian lama tidak ada kabar, komunikasi di grup pun terputus tidak lanjut.

Sampai pada saat alah satu teman memposting status di FB jika Jimmy di rawat di rumah sakit. Saya langsung menelepon Jimmy saat itu juga...

"Gimana kabarnya? Kamu sakit apa?"

"Awalnya sakit gigi tis, trus kok ndak enak di badan. Aku di suruh tes darah. Kata dokter kok ada arah ke penyakit hati atau ke ginjal"

"Oala, yang sabar ya Jim... Semoga lekas sembuh ya"

"Iya tis, doain aja ya..."

Obrolan kami waktu itu belum selesai, tapi telpon terputus. Saya telpon lagi tidak bisa. Mungkin lagi habis batere pikir saya saat itu.

Tapi saya selalu mendapat update kabar Jimmy, di grup BB teman2 selalu update keadaan Jimmy. Sampai kabar dia terdiagnosa terkena gagal ginjal kronis dan harus cuci darah. Dan update kabar jika Jimmy sempat ndak sadar.Update jika Jimmy menjalani perawatan di RSU. Soetomo, hemodialisis... Kabar terakhir yang saya terima dari istri Jimmy, Jimmy di bawa ke Kudus -ke rumah istrinya- untuk dilanjutkan pengobatan di sana.

Dua hari yang lalu, kabarnya Jimmy masih di rawat di RS di Kudus dan menjalani hemodialisis secara teratur meskipun harus mengantri.

Sampai....

Pada minggu siang kemarin (9 november 2014) saya membuka BB dan mendapatkan kabar jika Jimmy sudah meninggal dunia jam 1 siang.... Antara tidak percaya dan masih tidak percaya saya menanyakan kepastian kabar itu... dan kabar itu benar.

Innalillahi wa innaillaihi rojiun...
Selamat jalan sahabat, semoga Jimmy diampuni dosanya dan segala amal ibadahnya diterima disisi Allah SWT. Aamiin...
Semoga Jimmy menjadi orang yang khusnul khotimah... Aamiin....





Kamis, 23 Oktober 2014

LUNCH BOXES....

Saya mempunyai komitmen untuk memberikan yang terbaik untuk Fahrezas... salah satunya bekal kue atau makan untuk dibawa ke sekolah. Untuk memenuhi komitmen  itu berarti saya harus lebih pagi menyiapkan sarapan dan bekal makan siang atau kue untuk seluruh anggota keluarga (termasuk saya...).

Untuk Ayah, saya menyiapkan roti tawar yang dipanggang di teflon. Roti yang saya bawakan ada 2 jenis, yang pertama roti  isi telur mata sapi dan yang kedua roti isi margarin, meses, keju (kalo keju ndak ada ya ndak pake).

Untuk Nina dan Ken, isinya selalu sama jenis. 3 jenis kue dan 1 kotak susu. Plus 1 gelas tupperw*** air putih. Jika isinya tidak sama, pulang sekolah akan protes...

mengapa ndak sapa? 
kenapa susu adik coklat? 
kenapa punya mas Ken susu strawberry?
kenapa punya mas Ken isinya lebih banyak dari punya Nina?
^_^

Untuk Atta, yang dibawa lebih banyak. Ada 3 kotak makan dan 1 kotak sayur, susu 1 kotak, dan air putih 1 botol ukuran 500 ml. Rinciannya:
1 Kotak nasi plus sayur untuk makan jam 10 pagi
1 Kotak kue yang isinya sama dengan punya adik-adiknya
1 Kotak nasi yang lauknya telur (boleh dadar atau ceplok atau bumbu bali atau dibumbu kecap - pokoknya telur) untuk makan jam 3 sore.
Bekal Atta lebih banyak, karena Atta day care dari jam 8 sampai jam 4 sore.

Untuk Saya, saya juga bawa bekal. Tapi bukan untuk makan siang. Untuk makan jam 10 pagi...^_^
Pertama karena pagi saya jarang sarapan... (padahal dah bangun pagi, tapi tetep saja tidak sempat sarapan)
Kedua karena untuk membuat jarum timbangan geser ke kiri.... (aka. Diet)
Ketiga karena penghematan.... (harga makanan di kantin mahal... selain itu enak masakan saya hehehehe)
Bekal yang saya bawa, menunya sama dengan menu Atta hanya nasi lebih sedikit dan tempat makan yang lebih kecil... Plus bawa air putih untuk persediaan di mobil...
Hanya punya Ayah saja tidak ikut terfoto...^_^

Harapannya, dengan membawakan bekal dari rumah... selalu tetap terjaga kebersihan makannya dan pastikan gizinya tercukupi....

^_^